Mobil antik hanya milik pecinta sejati

Posted: April 10, 2010 in umum

Hobi mampu membuat seseorang lupa waktu bahkan ada yang rela mendedikasikan sebagian hidupnya untuk sesuatu yang bagi orang lain tidak berguna dan sekadar membuang waktu. Begitu juga dengan hobi mobil antik atau klasik.

Pandangan sebagai orang aneh dan kurang kerjaan pasti langsung dialamatkan saat penggemar barang antik tersebut membawa pulang sebuah mobil tua yang lebih tepat disebut kaleng butut bermesin yang lebih patut dibuang ke tempat sampah.

Tapi tidak bagi seorang pehobi mobil antik. Perlahan dengan kesabaran dibersihkannya tubuh kaleng itu dari karat yang menempel erat. Hari demi hari setiap sudut hingga baut digosok dengan teliti agar kembali mengkilap.

Tak lupa mesin yang merupakan jantung dari kaleng itu juga di rapihkan agar kembali bugar. Setiap titik ditelisik. Kalau perlu dibongkar total, dicuci bersih dan disusun kembali dengan onderdil yang jika perlu harus baru.

Sehari, seminggu, sebulan tak cukup bahkan perlu bertahun untuk membuat kaleng butut bermesin itu agar kembali menjelma dalam bentuk aslinya. Sesosok mobil mengkilat yang pernah menggoreskan sejarahnya di jalanan.

Lalu orang-orang pun hanya bisa menatap takjub sekaligus kagum saat sang penghobi, bukan, mungkin lebih tepat jika disebut pecinta mobil kuno itu melintas perlahan dengan benda yang disebut kaleng itu.

“Wah, kalau cuma di-omelin [dimarahi] istri gara-gara tiap ada waktu luang ngutak-atik mobil saya, itu sudah biasa. Toh lebih baik kan daripada ngutak-atik perempuan lain,” papar Imam Effendi, pendiri Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), di sela-sela peluncuran buku Jejak Roda Petualang dalam rangka peringatan 25 tahun PPMKI, pekan lalu.

Pemilik Fiat 1100 cc keluaran 1951 warisan orangtuanya, Wahyono Amiaji, itu menuturkan ada kenikmatan saat dari tangannya bisa muncul sebuah kendaraan yang sebelumnya tak layak jalan mampu kembali melaju di jalanan.

Kakek lima cucu yang pernah mengoleksi 18 mobil kuno itu menuturkan kenikmatan yang lain tentu saja adalah saat mobil yang dirawatnya mampu melaju dengan lancar saat menjalani touring jarak jauh tanpa macet.

Dia menuturkan tak hanya jalanan di penjuru Pulau Jawa yang sudah dia lahap dengan mobil tuanya, Imam mengaku perjalannya sudah pernah mencapai Aceh, Sulawesi, Bali, hingga ke Brunei Darussalam.

Hal yang tak terlalu berbeda juga dialami oleh Bambang Rus Effendi, Ketua PPMKI yang mengaku mendapatkan hobi itu dari sang ayah, Kadaroesman, yang merupakan anggota TNI AD.

“Ada kenangan setiap saya kembali mengendarai mobil antik tersebut. Saat itu, saya sering duduk dipangkuan beliau [ayah] yang mengendarai mobil,” ujar direktur PT Praweda Ciptakarsa Informatika yang sukses menangani IT pada Pemilu 1999.

Tetapi dibanding Imam, Bambang-yang hari itu membawa Morris-nya-lebih beruntung, hobi mobil antiknya itu bisa diwariskan pada kedua anak laki-lakinya, Rheinky dan Arssy.

Tak heran meski dirinya sibuk mengurus berbagai organisasi dan pekerjaanya, dia cukup tenang saat memelihara koleksi mobil antiknya mulai dari Fiat 1925 hingga Austin Seven 1937.

Tetapi ada juga yang mulanya benci kemudian jatuh cinta. Hal itu terjadi pada pengusaha Antony Djunaedi. Saat itu dia menyarankan agar mertuanya menjual seluruh koleksi Mercy klasiknya.

Alasanya karena terlalu lama nongkrong di garasi dan beliau sudah tak ada waktu untuk merawatnya. Saat itu tak ada ketertarikan sama sekali dengan ‘mobil tua’. “pasti sukanya mogok dan buat macet sepanjang jalan,” pikirnya.

Beliau setuju untuk menjual semuanya, tetapi dengan syarat agar Antony menghidupkan kembali koleksinya itu sebelum menjualnya. Dimulai dengan 280S W116 tahun 1973.

“Sangat sulit untuk mencari sebagian part nya di sini, untunglah akhirnya saya menemukan penyalur part original di Jerman. Setelah hampir selesai perbaikan, saya mencoba untuk menyetirnya. Begitu nyaman dan mantap,” kenangnya.

Rupa-rupanya, lanjutnya, kendaraan tua itu jauh lebih nyaman dari C klasse yang saya pakai tiap hari ke kantor. Hasilnya, saat itu juga Mercy yang lain yaitu 220Sb W111 1965 ditarik ke bengkel untuk segera dihidupkan.

“Ada perbedaan antara pemilik dan penggemar mobil antik. Pemilik belum tentu memiliki cinta pada mobil yang dimilikinya. Sebaliknya penggemar memiliki begitu banyak cinta pada kendaraanya,” ujar Roni Arifudin, Sekjen PPMKI.

Unik dan berkesan

Ada juga yang jatuh hati pada mobil antik karena keunikan cara mendapatkannya. Hal itu diakui Dharma Adsasmuda, asisten manager sebuah bank asing yang mengoleksi beberapa Mercedes klasik seperti Ponton 180, 190, 220 Fintail 220E Coupe 1964, Adenaheur 300D 1961 dan masih berkeinginan untuk memiliki sebuah Mercy 170SV.

Dia menuturkan pada pertengahan 1999, Dharma mengku tertarik pada sebuah Mercy tahun 1955 yang di jual di kolom iklan baris. Menariknya pemilik mobil itu ada di Australia, sehingga dealing-nya melalui telepon.

Kondisi kendaraan tersebut cukup lengkap detailnya, hanya ada beberapa bagian interior tidak ada dan grill depan serta bemper dalam keadaan karatan. Yang istimewa dokumen kendaraan tersebut sangat lengkap faktur dari pemilik pertama seorang dokter, sampai bon penggantian spare part selama 1960-1980-an serta bekas sticker pembayaran pajak 1960-1970-an.

Usai diperbaiki kendaraan itu diikutsertakan di pameran mobil klasik yang di selenggarakan oleh perhimpunan penggemar mobil di Indonesia. Dalam pameran tersebut banyak sekali pengunjung yang mampir untuk melihat kendaraan itu.

“Sampai ada sebuah media televisi [ANTV] meliput khusus mobil tersebut. Saya senang sekali dan bangga mengetahui bahwa mobil tersebut ternyata banyak juga yang menggemari,” lanjutnya dengan mata berbinar.

Hasilnya, setelah pameran pertama itu Dharma menjadi rajin ikut pameran-pameran. Menurutnya dari mobil itulah dia bisa mengenal banyak orang dan mempelajari cara merestorasi dan sejarah perkembangan Mercy dari orang-orang yang lebih dulu punya mobil jenis Mercy klasik.

“Saya punya obsesi untuk memelihara Mercy tersebut dan mewariskan kendaraan tersebut ke anak saya untuk tetap dipelihara pada masa yang akan datang,” ujar bapak tiga anak itu.

Saat ini, papar Dharma, diantara ketiga anaknya itu, justru anak terakhir, Radian Pramadha Putra, lah yang menampakkan bakat untuk mencintai koleksi sang ayah.

Tak terlalu berbeda dengan pengalaman Bob Bharuna yang pada awal Mercy dari orang tuanya, seorang insiyur pesawat (guru pusat pendidikan terbang di Curug). “Pendek kata karena beliau montir maka rumah sudah seperti bengkel. Mercy tua banyak sekali,” paparnya.

Pada akhirnya onggokan Mercy tersebut malah dipotong jadi besi tua. Namun ada satu tipe Mercy yang paling Bob suka yaitu tipe 220s coupe, yang mungkin hanya satu di Indonesia.

Sayangnya mobil tersebut hilang entah kemana. Tak satupun keluarga yang bisa memberi pentunjuk sebab sang ayah juga telah meninggal. “Tapi Mercy masih ada dihati saya. akhirnya, saya membeli sebuah Mercy Ponton 180b keluaran 1961. Saya dedikasikan kendaraan ini untuk beliau [ayahnya]. Saat ini kondisinya hampir maksimal dan semoga semakin hari semakin sempurna,” paparnya penuh kenangan.

Sarat magis

Meski mobil antik bukan keris buatan empu sakti tetapi sebagai sebuah benda yang antik, bukan omong kosong jika kemudian mobil antik juga dilingkupi hal-hal berbau mistis. Kadang unik dan sulit dijelaskan dengan nalar sehat.

Imam Effendi pernah merasakan hal itu, misalnya saat harus mengangkut Fiat 1907 milik almarhum Susuhunan Pakubuwana X dari Solo menuju Jakarta. “Saat akan di dorong ke dalam truk oleh tujuh orang. Mobil itu tak bergerak sama sekali,” paparnya.

Baru setelah dipanggilkan juru kunci dari mobil itu sekaligus doa-doa dipanjatkan. Mobil itu dengan mudah di dorong oleh empat orang ke atas truk. Tak mau mengambil risiko yang sama, sang juru kunci beserta tungku kemenyannya juga tutur diboyong ke Jakarta.

Hal yang sama juga dialami Bambang Rus Effendi yang memiliki kisah seru, menegangkan sekaligus menggelikan selama setahun dengan Mercy 1955 miliknya yang diparkir di depan rumah.

“Setiap malam lampunya menyala sendiri. Byar pet, saya pikir tikus. Tetapi saya berpikir positif saja. Barangkali kabelnya korslet. Cuma bikin kita keder juga,” tuturnya sambil tergelak.

Pengalaman tak masuk akal yang tak bisa dilupakannya adalah saat membawa Austin Seven 1937-nya ke bengkel. Tak diduga tak dinyana, tiba-tiba Austin tersebut menyala lalu berjalan begitu saja meninggalkan sang mekanik bengkel yang terheran-heran.

Tentu saja banyak pengalaman aneh dan unik yang dialami para pemilik mobil antik tersebut, namun jika dilihat dari cerita penghobi mobil antik itu, semuanya bermuara kepada satu hal, yaitu tidak ada yang bisa membuat seorang pengendara untuk lebih setia kepada kendaraannya daripada sebuah kendaraan yang begitu setia kepada pengendaranya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s