TINJAUAN WAKTU HAJI

Posted: April 14, 2010 in agama

Pada majalah Tempo awal 1990-an, tertulis pendapat yang cukup aneh dari seorang tokoh intelektual NU bahwasanya waktu pelaksanaan haji perlu ditinjau ulang. Menurut Masdar Farid Mas’udi—begitulah nama lengkap penggagasnya, selanjutnya penulis singkat dengan Masdar—sekaranglah saatnya diperlukan solusi yang lebih radikal dari sekedar membatasi kuota dan memperluas tempat-tempat penampungan jemaah. Hal yang cukup mengagetkan memang, karena selain pelaksanaannya yang telah berlangsung sekitar 1400 tahunan, haji telah dianggap muslim sebagai ibadah ritual yang bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga ibadah mahdah kepada Tuhan dan merupakan rukun dalam agama Islam yang kelima.

Hampir setiap muslim yang berakal di seluruh dunia mungkin tahu, bahwa yang namanya rukun sendiri merupakan hal yang wajib dipenuhi agar keislaman seseorang menjadi sempurna. Bisa dikatakan, mana saja muslim yang telah mampu—baik jiwa raga maupun biaya—sedangkan ia belum juga menjalankan ibadah haji, maka muslim tersebut akan menanggung dosa selama hajinya tadi tak terpenuhi. Betapa pentingnya ibadah ini juga, barangkali yang menyebabkan prosesi pelaksanaannya menjadi sakral serta menuntut muslim agar dilakukan dengan benar berdasarkan tuntunan nabi SAW, mulai dari syarat, rukun, hal yang menjadikan batal, hingga tata cara, dan waktu pelaksanaannya.

Namun demikian, bagaimanakah jadinya bila muncul suatu pendapat seperti dari Masdar di atas yang mempertanyakan peninjauan ulang mengenai waktu pelaksanaannya. Tentu pendapat tadi tidak dengan baik diterima masyarakat bahkan terkesan adanya penolakan yang hingga saat ini pun belum ada tindak lanjut dari pihak pemerintah, khususnya di Indonesia—dalam hal ini DEPAG—yang selain instansi tadi ditunjuk sebagai regulator, ia juga memposisikan diri sebagai kontroler. Terlepas dari hal tersebut, di sini penulis berkeinginan untuk menelaah penafsiran Masdar sendiri yang bisa terbilang masih aneh.

Sebagaimana kita ketahui, al-Qur’an yang dinilai sebagian pakar sebagai intan ini[1] begitu multitafsir, setiap lafaznya memancarkan berbagai makna, hingga tak ayal perbedaan dan pertentangan pendapat pun terjadi. Penulis sendiri menilai hal tersebut sebagai cobaan dan hikmah kehidupan yang seakan Tuhan menghendakinya, dalam al-Qur’an disebutkan:

ولو كان من عند غير الله لوجدوا فِيهِ اختِلافا كَثيرا (النساء: 82

“Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Ayat di atas memang tidak secara langsung menyatakan bahwa al-Qur’an itu menyebabkan perbedaan. Namun bila diperhatikan lebih lanjut, ayat tersebut bagaikan kalimat retoris ‘seandainya saja al-Qur’an bukan dari Allah, pastilah pertentangan yang terjadi akan lebih banyak—baik itu dari segi keotentikan dan keindahan bahasanya; kebenaran data dan sejarah perbuatan umat masa silam; kecocokan dan ketepatan prediksinya dengan penemuan di masa sekarang; ataupun yang selainnya—karena al-Qur’an sendiri saja, yang kenyataannya benar-benar dari Tuhan masih juga diperdebatkan, paling tidak dalam upaya interpretasinya juga pastilah ada perbedaan’. Hal perbedaan tersebut bagi penulis merupakan eksistensi yang tak bisa ditolak.

Lebih lanjut penulis berpandangan, dalam memahami—mungkin bisa juga sekaligus menilai kebenaran—al-Qur’an, maka upaya tersebut tergantung juga pada orientasi kita. Jika bertujuan untuk penelitian sejarah, maka kita perlu menilainya dari tekstualis ayat. Sedangkan bila tujuannya adalah demi menarik manfaat untuk kehidupan zaman ini, maka diperlukanlah penafsiran secara kontekstual dengan menarik kesimpulan nilai-nilai saat turunnya wahyu dan mengkondisikannya dengan keadaan sekarang.

Adapun perbedaan penafsiran Masdar dengan beberapa mufassir dan ulama-ulama fiqh sebelumnya lebih tertekan pada waktu pelaksanaannya saja, khususnya saat berkumpul di Arafah. Masdar menyatakan:

“Dalam al-Qur’an, sesungguhnya kita menemukan satu ayat yang sangat sarîh, yaitu ayat “al-hajju asyhurun ma’lûmât” (haji itu waktunya adalah beberapa bulan yang diketahui). Jadi tegas sekali di dalam ayat itu diterangkan bahwa waktu haji itu beberapa bulan, bukan beberapa hari. Bahwa sekarang ini dipersempit menjadi hanya lima hari (waktu efektif), memang karena waktu praktek Rasulullah yang berhaji hanya sekali, dan kebetulan pada hari-hari itu tadi (9-13 Dzulhijjah).”[2]

Jadi menurut Masdar, waktu pelaksanaan ibadah haji itu beberapa bulan, yaitu bisa di bulan Syawwal, Dzu al-Qa’dah, atapun pada bulan Dzu al-Hijjah. Hal ini tentunya bila dipraktekkan akan memudahkan para jama’ah haji yang memang kenyataannya mengalami berbagai masyaqqât dalam pelaksanaanya pada saat sekarang ini, mulai dari penampungan-penampungan yang perlu diperluas, mudahnya terjadi kebakaran karena padatnya perkemahan—selain juga panasnya negeri Arab—bahkan kasus yang terbaru adalah pembatalan kuota sejumlah 30.000 jama’ah haji yang tentunya menjadikan penyesalan tersendiri bagi orang yang mau menjalankan ibadah ke rumah Allah.

Adapun pelaksanaan yang berlaku dari dahulu hingga sekarang yang mensyaratkan adanya wuqûf di Arafah pada hari Arafah merupakan adat saja yang akhirnya menjadi sakral karena kebetulan rasul pernah mempraktekkannya pada hari tersebut. Dalam menguatkan argumennya berkaitan dengan hadis Arafah, lebih lanjut Masdar menambahkan:

“Tapi akhirnya dipahami bahwa haji hanya sah pada hari itu-itu saja. Lebih-lebih ada hadis yang mengatakan bahwa “al-hajju ‘arafah”, atau haji itu adalah wuqûf di Arafah. Nah, hadis ini yang kemudian dipahami bahwa haji itu intinya bukan hanya wuqûf di tempat bernama Arafah, tapi juga wuqûf di hari Arafah. Inilah yang sebetulnya menjadi problem. Dan menurut saya, problem ini harus dipecahkan.”[3]

Sebenarnya secara keseluruhan, penafsiran Masdar mengenai waktu haji itu beberapa bulan—kalau dalam bahasa Arabnya asyhur—tidak begitu berbeda dengan para mufassir sebelumnya. Al-Zamakhsyari (538 H) misalnya menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan lafaz asyhurun ma’lûmât adalah Syawwal, Dzu al-Qa’dah, dan Dzu al-Hijjah.[4] Pendapat senada juga tertulis dalam beberapa kitab tafsir sesudahnya, seperti Ibnu Katsir (w. 774 H) yang mengutip dari hadis riwayat Bukhârî[5], al-Suyûtî (911 H)[6], dan sebagainya. Lebih-lebih, dalam kitab-kitab tafsir tersebut tidak banyak—meskipun ada juga beberapa yang mencoba mengkorelasikannya dengan menganggap hadis ‘Arafah sebagai takhsîs dari surat al-Baqarah ayat 197 di atas—menafsirkan dengan mengkorelasikannya terhadap lafaz “‘arafah” yang terdapat dalam hadis. Kebanyakan dari mereka justru banyak memaparkan bahwa apakah kata asyhur tersebut hanya tiga bulan tadi, ataukah seluruh bulan. Dari sini jugalah sebabnya Masdar mempertanyakan kenyataan sekarang yang mana kenapa hari pelaksanaan haji hanya lima hari efektif dan selanjutnya menganggapnya merupakan adat semata.

Mengenai bunyi hadis yang menyebutkan bahwa waktu haji itu tiga bulan dan dijadikan dasar dalam menjelaskan ayat di atas adalah;

قال البخاري: حدّثنا أحمد بن حازم بن أبي غرزة، حدّثنا أبو نعيم، حدّثنا ورقاء، عن عبد الله بن دينار، عن ابن عمر قال {الحجّ أشهر معلومات} قال: شوّال وذو القعدة وعشر من ذي الحجّة

Adapun diantara mufassir yang menyebutkan ketentuan waktu haji seperti tersebut di atas dan juga mensyaratkan adanya kewajiban wuqûf di Arafah pada hari Arafah adalah M. Quraish Shihab, Muhammad ‘Ali al-Sabûnî, dan al-Qurtubî. Quraish Shihab menyebutkan berkaitan perbedaan umrah dengan haji. Umrah terambil dari akar kata yang sama dengan makmûr. Dari segi bahasa, umrah berarti “sesuatu yang memakmurkan”. Menurut istilah hukum Islam, Umrah adalah berkunjung ke Ka’bah dengan cara tertentu sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh agama, yakni memakai pakaian ihram dari tempat tertentu, bertawâf tujuh kali mengelilingi Ka’bah, melakukan sa’i antara bukit Shafâ dan Marwah, serta menggunting atau mencukur rambut (dalam rangka memakmurkan jiwa). Ini harus dilakukan sesuai dengan urutan itu. Umrah tidak mempunyai waktu tertentu, boleh dilakukan kapan saja sepanjang tahun. Bahkan dalam setahun, Umrah dapat dilakukaan beberapa kali. Sementara itu, haji ada waktunya, yakni bulan Syawwal, Dzu al-Qa’dah, dan Dzu al-Hijjah. Selain aktivitas yang disebut di atas tentang Umrah, masih ada aktivitas lain yang harus dilakukan oleh orang yang berhaji, yakni berada (wuqûf) di padang Arafah pada tanggal 9 Dzu al-Hijjah, melontar jumrah, dan lain-lain.[7]

Dari statemennya tersebut, Quraish Shihab agaknya mencocokkan pendapatnya dengan adanya kewajiban wuqûf di padang Arafah pada hari Arafah. Pendapat ini disebutkan juga oleh al-Sâbûnî sebagai pendapat jumhur ulama, selanjutnya ia mengatakan bahwa waktu wuqûf dimulai dari tergelincirnya matahari, pada tanggal 9 Dzu al-Hijjah, sampai terbit fajar pada tanggal 10 Dzu al-Hijjah, dan bahwasanya wuqûf di Arafah sudah dapat dinyatakan sah, apabila orang hadir di padang Arafah untuk sebagian waktu saja dari jarak waktu tersebut di atas, baik pada waktu siang harinya, maupun pada malam harinya, dengan ketentuan bahwa orang yang berwuqûf pada siang hari, maka wajib baginya meneruskan wuqûfnya sampai terbenam matahari, sedang orang yang memulai wuqûfnya pada malam hari, tiadalah kewajiban sesuatu atasnya.[8]

Bila demikian adanya, berarti meskipun Quraish Shihab, al-Qurtubiy, dan al-Sâbûniy membolehkan pelaksanaan haji pada bulan Syawwal misalnya mulai dari niat berihrâm, akan membawa konsekuensi tetap harus adanya wuqûf hingga  pada saat bulan Dzu al-Hijjah selama hampir tiga bulan di tanah haram. Hal wuqûf yang diharuskan adanya pada hari Arafah inilah yang berbeda dengan pamaknaan Masdar dan dianggapnya sebagai masyaqqah. Karena baginya telah dinila sah orang yang sedang berhaji untuk pulang pada bulan Syawwal, dengan syarat orang tersebut telah wuqûf di Arafah.

Masdar sendiri banyak menjadikan kaidah-kaidah ushûl sebagai dasar pengambilan pendapatnya. Ia melihat bahwa pelaksanaan haji sekarang ini sudah mencapai masyaqqât dan selanjutnya mengharuskan adanya kemudahan karena agama itu dalam hakikat dan tujuannya adalah memudahkan dan memberikan petunjuk, namun ternyata dalam prakteknya, masyarakat sekarang justru malahan terlihat terberatkan dalam menjalani ibadah. Namun demikian, Masdar sendiri tidak langsung menyalahkan mufassir dan ulama-ulama fiqh klasik karena memang hampir bisa dipastikan bahwa ritual haji pada saat nabi dan ulama-ulama fiqh masa lalu tidak didapatkan adanya masyaqqât. Bila sudah demikian, apakah sekarang saatnya.


[1] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’ân: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994) h. 16

[2] Masdar Farid Mas’udi, “Waktu Pelaksanaan Haji Perlu Ditinjau Ulang” dalam Abd Moqsith Ghazali, Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, Jakarta: Penerbit Jaringan Islam Liberal, 2005

[3] Masdar Farid Mas’udi, “Waktu Pelaksanaan Haji Perlu Ditinjau Ulang” dalam Abd Moqsith Ghazali, Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, Jakarta: Penerbit Jaringan Islam Liberal, 2005

[4] Abû al-Qâsîm Mahmûd bin ’Umar al-Zamakhsyari, al-Kasysyâf ’an Haqâ’iq Ghawâmid al-Tanzîl wa ’Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta’wîl (Riyâd: Maktabah al-’Abîkân, 1998 M/1418 H) cet. 1, juz. I, h. 405

[5] Abu al-Fida’ Ismail bin Katsir al-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim (Kairo: Maktabah Aulad al-Syaikh li al-Turats, 1421 H/2000M) cet. 1, j. II, h. 239

[6] Jalâl al-Dîn, al-Suyûtî, al-Durr al-Mantsûr fi al-Tafsîr al-Ma’tsûr, Tahqîq: Dr. ‘Abd Allah bin Abd al-Muhsin al-Turki (Kairo: Markaz Hijr li al-Buhûts wa al-Dirâsât al-‘Arabiyyah wa al-Islâmiyyah, 1424 H/2003 M) cet. 2, j. II, h. 374

[7] M. Quraish Shihab, M. Qurais Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui (Tangerang: Penerbit Lentera Hati, 1430 H/2009 M) cet. 5, h. 239

[8] M. Ali al-Sabûnî, Tafsir Ayat-ayat Hukum dalam al-Qur’an, terj. Saleh Mahfoed, (Bandung: al-Ma’arif, 1994) cet. 10, j. I, h. 453

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s